Awal Semester #HariSelasa
Setelah liburan
panjang, semester baru dimulai. Seperti biasa, pagi hari saya harus mengendarai
sepeda motor dari rumah kontrakan menuju kampus dan tak jarang bertemu dengan
teman-teman di persimpangan lampu merah, teman-teman kampus yang selalu memberi
inspirasi. Pagi itu, Hari selasa cuaca cerah dan alhamdulillah saya menjadi
orang kedua yang terlebih dahulu memasuki ruangan kelas. Saya menunggu
teman-teman diluar ruangan. Tak lama kemudian, teman-teman pun datang. Tiba-tiba
seorang bapak bertanya, kalian kelas apa? BK A 2015 pak. Oh. Saya pak sumarno,
Dosen evaluasi dan supervisi BK. Di jadwal yang diberikan pihak akademik, saya
mengajar sekarang di ruangan ini (sambil menunjuk jadwal dan ruangan yang
berada di depan kami). Tetapi, di jadwal kami hari ini mata kuliah nya “Pengembangan
pribadi dan profesi konselor” pak. Kemudian, Datanglah dua orang ibu-ibu. yang
satunya masih muda dan satunya lagi sudah senja. Mereka adalah tim dosen kami
untuk mata kuliah pagi itu.
Mengapa pak. Sahut si
ibu dosen. Begini bu, jadwal saya bertabrakan dengan jadwal ibu, pastinya ada
kesalahan. Ya sudah tidak apa-apa, saya akan bertanya pada pihak akademik.
Terima kasih bapak, sahut ibu dosen. Ada pesan moral yang bisa diambil dari
kejadian itu bahwa jika ada masalah, maka fokuslah pada solusi bukan terus
berbicara dan menyalahkan orang lain. Kami pun memulai kelas pagi itu, Ibu
dosen yang muda belum pernah mengajar kami di semester awal, kemudian ibu itu
memperkenalkan dirinya. Ia bernama DR. Budi Astuti, alumni S1 dari BK UNY, S2
Psikologi UGM dan S3 BK UPI. Dahulu, memang tidak ada ketentuan setiap dosen
harus linier, sehingga banyak dosen yang tidak linier namun tetap dalam ruang
lingkup serumpun ilmu. Kebijakan sekarang sudah berbeda. Setiap akademisi wajib
mengambil prodi yang linier jika ingin menjadi dosen yang profesional. Setelah
berkenalan, kami pun belajar. Ibu Budi sangat baik dan bersahaja.
Perkuliahan dimulai
dengan brainstorming mengenai sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh
seorang konselor agar menjadi konselor yang profesional di bidangnya. Mas
Yocta, ditunjuk dosen kami untuk maju kedepan kelas dan menulis pendapat
teman-teman. Adapun sifat yang harus dimiliki menurut perspektif kami adalah bersedia
mengimplementasikan pengetahuan yang didapat dari seminar dan buku yang
relevan, kreatif, agar siswa tertarik memasuki ruang BK dan meyakinkan siswa
bahwa konselor hadir untuk membantu semua siswa serta mampu menerangkan bahwa
guru BK bukan polisi sekolah. Sehingga, Guru BK harus mampu mengembangkan
potensi siswa.
Selain itu, Guru BK
harus berpenampilan menarik, humoris, empati, ramah, memiliki kemampuan
menyesuaikan diri yang baik, pemikirannya up to date, cerdas (mampu
menyelesaikan masalah dengan tepat dan cepat), loyal dan disiplin. Dapat dipercaya
dan rendah hati.
Menurut Gerald Corey,
dalam bukunya Theory and Practice of
Counseling and Psychotherahy, edisi ke sembilan tahun 2013, Terdapat 14 personal characteristic of effective
counselor (karakteristik pribadi konselor yang efektif), diantaranya:
- Have an identity (punya identitas diri). Konselor tersebut mengetahui siapa dirinya, apa kelebihannya dan apa ya ia mau
- Respect and appreciate themselves. Menghormati dan menghargai profesinya
- Open to change (menerima perubahan)
- Make choice that alive oriented (memiliki pilihan terhadap orientasi hidup)
- Auntenthic, sincere and honest (apa adanya, tulus dan jujur)
- Have a sense of humor ( punya sifat humor)
- Make mistake and admit and apologize it (membuat kesalahan, mengakui dan mampu meminta maaf)
- Life in present (hidup pada realita saat ini)
- Appreciate influence and culture (menghargai pengaruh budaya)
- Have a sense of welfare (memiliki minat yang tulus untuk kesejahteraan orang lain)
- Possess interpersonal effective skill (memiliki keterampilan interpersonal yang efektif). Kita harus memilihi keterampilan berhubungan dengan orang lain, harus mampu menunjukkan wajah dan sikap yang hangat, jika belum mampu menampilkan senyum terbaik, kita bisa latihan dirumah menggunakan cermin dan buatlah wajah itu tersenyum sehingga wajah itu nyaman untuk diajak berkomunikasi.
- Became emphaty, kita harus bisa turut serta merasakan masalah yang dihadapi oleh konseli
- Passionate (bersemangat dan bergairah dalam melaksanakan program kerja setiap hari)
- Maintaining health and boundaries ( mampu menjaga kesehatan kondisi tubuh, karena jika stamina tidak stabil, maka performa kita sebagai konselor akan melemah dan akibatnya konseli merasa tidak percaya bahwa konselor bisa mengatasi masalahnya)
Dengan
demikian, karakteristik pribadi sangat menentukan keprofesionalan dalam suatu
bidang ilmu tertentu. Walupun kita kuliah pada program studi yang sama,
mendapatkan mata kuliah serta dosen yang sama, bahkan pada perguruan tinggi
yang sama, hasil keprofesionalan ilmu kita akan berbeda, Hal tersebut
bergantung pada cara mengimplementasikan ilmu yang telah didapat serta
kemampuan masing-masing individu dalam menampilkan karakteristik pribadi yang
efektif layaknya seorang konselor.
Comments
Post a Comment